Biografi Singkat Masruq bin Al-Ajda : Tabi'in, Konon Ia Pernah Dicuri Sewaktu Kecil !?

Biografi Singkat Masruq bin Al-Ajda : Tabi'in, Konon Ia Pernah Dicuri Sewaktu Kecil !?

Biografi Singkat Masruq bin Al-Ajda : Tabi'in, Konon Ia Pernah Dicuri Sewaktu Kecil !?

***
Biografi Masruq Bin al-Ajda' رحمه الله ini disajikan dengan tujuan mendidik para pemuda-pemuda kebangkitan Islam sebagaimana para ulama dan para imam mulia dididik, berupa zuhud, wara', merasa cukup, semangat ibadah dan rasa takut yang besar kepada Allah. Sehingga mereka tergembleng dibawah keserasian yang mulia.

Beliau sempat berguru kepada para sahabat diantaranya Abdullah bin Mas'ud, Ali, dan Aisyah. Tabi'in yang akan kita kisahkan kali ini memiliki sifat zuhud, giat beribadah, dan sangat wara'. Semoga Allah merahmatinya...

Tentang Namanya: Masruq


Nama asli beliau ialah Masruq bin al-Ajda' al Hamadani al-Wadi'i, Abu Aisyah al- Kufi.[1]

Berkata Abu Bakar al-Khatib, "Kabarnya ia pernah dicuri saat masa kecil, lalu ditemukan dan diberi nama Masruq (yang di curi)..."

Pujian Ulama Kepada Masruq


Dari Manshur bin Ibrahim, ia berkata: "Para murid Abdullah bin Mas'ud yang mengajarkan ilmu kepada manusia dan mengajarkan sunnah kepadanya adalah: Alqamah, al-Aswad, Ubaidah, Masruq ... ."[2]

Berkata Amir asy-Sya'bi, "Aku tak mengetahui ada orang yang lebih giat dalam menuntut ilmu di seluruh penjuru bumi daripada Masruq."

Masih dari asy-Sya'bi, "Tatkala Abdullah bin Ziyad datang di Kufah, ia bertanya, 'Siapa orang yang paling mulia?' Mereka mengatakan, 'Masruq'."[3]

Berkata Ahmad bin Hanbal, "Ibnu Uyainah berkata, 'Masruq masih hidup sepeninggal Alqamah dan tak seorang pun yang lebih utama ketimbang dia (masruq)'."[4]

Berkata Ibnu Sa'ad, "Ia merupakan perawi yang tsiqah dan ia memiliki hadis-hadist yang bagus."[5]

Aisyah pernah berkata, " Hai Masruq, engkau termasuk anakku, dan kamu merupakan orang yang paling aku cintai ketimbang mereka... "[6]

Kegigihan Masruq dalam Beribadah


Abu Ishaq berkata, "Masruq pernah menunaikan haji, maka tidaklah ia mengarungi suatu malam kecuali dalam keadaan sujud (shalat sunnah)."[7]

Ibrahim bin Muhammad ia berkata,"Masruq menutup tirai antara ia dan keluarganya, kemudian ia fokus pada shalatnya, dan meninggalkan mereka dengan dunia mereka."[7]


Al-A'masy bin Abi adh-Duha, berkata, "Masruq pernah bangun mengerjakan shalat seakan-akan ia seorang rahib. Ia berkata kepada keluarganya, 'Bawalah seluruh kebutuhan kalian lalu sampaikan kepadaku sebelum aku bangun mengerjakan shalat."[9]

Sikap Zuhud dan Wara' Masruq


Abu Dhuha berkata, "Masruq pergi sebagai pejabat di as-Salsalah selama dua tahun, kemudia saat ia kembali darinya, keluarganya melihat ia membawa barang bawaan, ternyata mereka mendapati sebuah kapak. Mereka pun berkata, 'engkau pergi dua tahun lamanya, lalu kembali kepada kami hanya membawa kapak tanpa gagang.' Dia (masruq), berkata, 'inna lillah, kami telah meminjamnya dan kami lupa mengembalikannya.' [10]

Dari Masruq bahwa ia tidak mengambil upah atas jabatan yang diembannya sebagai qadhi (hakim).[11]

Meninggal Masruq


"Masruq Sempat menjadi gubernur daerah Assalsalah dua tahun lamanya , dan ia selalu shalat dua rakaat-dua rakaat untuk mencari pahala sunnah." Demikian kata Syaqiq.

Menjelang wafat, masruq sempat berkata, "Ya Allah aku tak ingin mati diatas perkara yang tidak disunnahkan oleh Rasulullah ﷺ, Abu Bakar, dan Umar. Demi Allah aku tidak meninggalkan emas dan perak untuk seorang manusia pun, selain apa yang ada di pedangku ini. Maka, kafanilah aku dengannya."[12]

Bertutur Sufyan bin Uyainah, "Meninggal Masruq pada tahun 63 H. Ia Adalah seorang yang tsiqah, dan ia memiliki riwayat hadits-hadist yang benar."[13]


-------------------------------------

[1] Tahdzib Alkamal, Jamaluddin Almizzi, 27/451.

[2] Tarikh Baghdad, al-Hafiz al-Khatib al-Baghdadi, 13/233.

[3] Siyar A'lam an-Nubala, adz-Dzahabi 4/66.

[4] Siyar A'lam an-Nubala, adz-Dzahabi, 4/67.

[5] Ath-Thabaqat al-Kubra, Muhammad bin Sa'ad.

[6] Siyar A'lam an-Nubala, adz-Dzahabi, 4/67.

[7] Hilyah al-Auliya wa Thabaqat al-Ashyifa, Abu Nu'aim, 2/95.

[8] Hilyah al-Auliya wa Thabaqat al-Ashyifa, Abu Nu'aim, 3/96.

[9] Hilyah al-Auliya wa Thabaqat al-Ashyifa, Abu Nu'aim, 2/96.

[10] Siyar A'lam an-Nubala, adz-Dzahabi, 4/66.

[11] Hilyah al-Auliya wa Thabaqat al-Ashyifa, Abu Nu'aim, 2/96.

[12] Aththabaqat Alqubra, Muhammad bin Sa'ad, 6/83.

[13] Aththabaqat Alqubra, Muhammad bin Sa'ad, 6/84.

___

Catatan: Artikel diatas disarikan secara bebas dari kitab Terjemahan Min A'lam as-Salaf karya syeikh Ahmad Farid, dengan judul Biografi 60 Ulama AhlusSunnah.


Disusun @ Ma'had Assunnah, Cirebon, 16 Ramadan 1438 H
Oleh: Akhukum fiIllah Abu Adam Bassamian


www.INTIFA.net, www.WIKIDAKWAH.intifa.net, FB @Wikidakwah, Instagram @Wikidakwah
__

WALLAHUA`LAM





***
Disqus

Formulir Kontak